
Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menetapkan status siaga bencana kekeringan menyusul meluasnya wilayah yang mengalami kekurangan air bersih pada musim kemarau tahun ini. Status siaga itu dituangkan dalam Keputusan Bupati Sumenep Nomor: 100.3.3.2/185/KEP/013/2026 dan akan berlaku selama enam bulan, dengan penyesuaian mengikuti perkembangan kondisi di lapangan. Kebijakan ini dirancang sebagai payung hukum untuk mempercepat mobilisasi penanganan di tingkat kabupaten maupun desa.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menjelaskan, penetapan status siaga dimaksudkan untuk memastikan kebutuhan dasar warga, terutama air bersih, dapat segera dipenuhi di desa-desa terdampak. Menurut dia, langkah ini menjadi tahap awal agar instansi terkait bisa bergerak lebih cepat ketika indikasi kekeringan muncul. Salah satu prioritas yang telah disusun adalah penyaluran air bersih ke permukiman yang kesulitan memperoleh pasokan, seiring menurunnya ketersediaan air di sejumlah titik.
Pemkab Sumenep saat ini mengintensifkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan berbagai organisasi perangkat daerah lain untuk menyusun langkah antisipasi di sektor kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Melalui koordinasi ini, pemerintah daerah menyiapkan pola respons yang lebih terukur, mulai dari pemetaan desa rawan hingga penentuan mekanisme distribusi bantuan air. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menekan dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
Di tingkat tapak, seluruh kepala desa diinstruksikan agar lebih responsif memantau kondisi wilayah masing-masing dan segera melaporkan jika tanda-tanda kekeringan mulai mengganggu pasokan air bersih maupun kegiatan pertanian. Pemerintah desa diminta tidak menunggu sampai krisis meluas sebelum menyampaikan laporan resmi ke pemerintah kabupaten. Dengan pola pelaporan dini ini, Pemkab menargetkan intervensi bisa dilaksanakan lebih cepat, mulai dari distribusi air bersih hingga penyiapan langkah lanjutan jika kekeringan berkepanjangan.
Google uruchomiło w Krakowie drugie biuro, wzmacniając rolę miasta jako jednego z kluczowych hubów inżynieryjnych koncernu na świecie. Nowa przestrzeń w kompleksie Tertium przy ul. Lublańskiej powstała na czterech piętrach budynku i oferuje 300 stanowisk pracy. Oprócz powierzchni biurowej przewidziano też laboratoria, sale konferencyjne, przestrzenie wspólne, stołówkę i kawiarnię.
Według dyrektorki krakowskiego oddziału Google Magdy Rabiej, lokalny zespół liczy obecnie ponad 400 specjalistów i nadal rośnie. Krakowskie centrum odgrywa istotną rolę w tworzeniu innowacji dla chmury obliczeniowej Google Cloud oraz systemów mobilnych. To z Krakowa rozwijane są fundamenty infrastruktury do przetwarzania danych, z których korzystają największe światowe przedsiębiorstwa.
Inżynierowie pracujący w dwóch krakowskich biurach – przy Rynku Głównym oraz w kompleksie Tertium – realizują projekty w ramach działu Platforms & Devices. Obejmują one m.in. innowacje w systemie Android, w tym rozwiązania na laptopy, tablety, komunikację biznesową oraz Android Auto, a także rozwój przeglądarki Chrome i całego ekosystemu webowego. W Krakowie prowadzone są również prace nad urządzeniami z linii Pixel oraz budową zaawansowanej infrastruktury inżynieryjnej (PDEIO), która wspiera te procesy.
Nowe biuro wpisuje się w szerszą obecność Google w Polsce. Koncern działa na rynku od 20 lat, a w biurach w Warszawie, Krakowie i we Wrocławiu zatrudnia łącznie około 3 tys. osób. Około 80 proc. polskiego zespołu stanowią programistki i programiści, co – według przedstawicieli firmy – czyni lokalny oddział jednym z najważniejszych ośrodków inżynieryjnych w globalnych strukturach Google.